Sabtu, 19 Mei 2018

Kota Sejuta Wali (Tarim)

KOTA TARIM : KOTA YANG PENDUDUKNYA PALING BANYAK DZURRIYAH ROSULULLAH ﷺ DI DUNIA.

Tarim adalah kota dengan penduduk Bani 'Alawi terbanyak di dunia, dari kota ini lahir Imam-Imam besar Dzurriah Rosululloh صلى الله عليه واله وصحبه وسلم , kota yang memiliki lebih dari 300 masjid ini juga memiliki penghafal Al Qur'an dan mufti terbanyak.

Yang menarik adalah, meski disitu didapati semua Dzurriah dengan jalur Dzahabi (turunan Nabi dengan Nasab yang keasliannya terbaik) lebih dari 1000 thn penduduk Tarim menganut Madzhab Sunni Syafi'i dan hingga hari ini tetap seperti itu, ada kala satu dua macam aliran lain mencoba masuk menerobos, tapi terbabat dan tenggelam saat bertemu keteguhan keilmuwan kota Tarim Wa Ahlaha..

Tarim itu nama sebuah tempat di Hadramaut, Yaman.
🌏 Kota sejuta wali.
🌏 Medan ILMU
🌏Tempat lahirnya berbagai Ulama’-ulama’ hebat dunia keturunan Rosululloh SAW.
🌏 Di sana semua wanita yang sudah baligh pasti memakai ‘cadar di muka’ (Niqob/Burqo) jadi sangat sukar sekali menjumpai wanita di sana.

Di pasar-pasar Tareem pun khusus buat laki-laki saja membeli keperluan dapur.
Pasar di Tareem sangat menarik. Lain dari semua tempat. Di sana mereka sambil menunggu pelanggan sambil mengkhotamkan beberapa kali Al Qur'an.
Jika tiada pelanggan, sesama mereka belajar kitab, menyampaikan ilmu di pasar itu. Dan di pasar selalu dikumandangkan sholawat, qasidah.

💝Kata seorang Ulama’ Tarim,"

Di pasar Tareem aku dapati ada 200++ orang Waliyulloh (kekasih Alloh SWT).

Jika di pasar tempat yang sebegitu sudah 200++ orang wali apa lagi jika yang berada di masjid-masjid?".

🔭Ketahuilah hanya Wali Alloh saja dapat mengetahui siapa wali-wali.

Di pasar, apabila mendengar waktu azan terus mereka tutup toko dan berlari pergi ke Masjid. Jika habis azan, mereka masih belum tutup toko mereka akan biarkan dan terus ke masjid tanpa merisaukan tokonya .

Bila ditanya kenapa?
Katanya adakah dunia lagi penting dari Alloh SWT?
مشاء الله

Di pasar tidak ada perempuan di situ.
Mereka terjaga/terpelihara suci di rumah mereka atau di tempat belajarnya. Dan laki-laki kebanyakan duduk di Masjid-masjid.
Masjid di Tarem sungguh banyak. Baru berapa KM sudah ada masjid lagi. Dan Masjid mereka penuh dengan orang. Bahkan waktu sholat tahajjud tengah malam pun ramai seperti solat Jumat.

Siapa yang datang ke Tarim pasti dan pasti tidak mau pulang ke tanah air, karena Tareem bagaikan kota Akhirat. Yang mengingatkan kita hanya pada AKHIRAT.

🌏Di Tareem kalian harus menjaga Hati❤.

Kenapa?

Pernah ada suatu ketika seorang kawan melihat Bpk tua yang sedang membersihkan hewannya di pagi hari . Lalu kawanku ini terpetik dalam hatinya "Bpk ini tak pergi masjid, ini kan sudah mau subuh". Tapi pas berlalu di depan Bpk itu, tiba-tiba Bapak itu menegurnya.
Katanya “jaga hati kamu!”, terus kawan nangis dalam hati dan istighfar. Karena dia hanya berkata DALAM HATI saja tapi Bpk itu bisa langsung tahu.
مشاء الله!

Kebanyakan Penduduk di Tareem itu bisa tahu isi hati kita, perbuatan kita dan lain-lainnya karena mereka kebanyakannya Wali Alloh SWT.

🌏Nama pun KOTA SEJUTA WALI.
Itu hanya sedikit kisah, yang lainnya banyak lagi kisah yang menarik di sana.
Semoga suatu hari nanti kita dapat jejakkan kaki lagi ke sana.

Aamiin Allohumma Aamiin.

آللّهُمَ صَلّ وَسَلّمْ عَلَى سَيّدنَآ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيّدنَآ مُحَمَّدٍ
أَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ  .

Sumber: FB berlian bafaqih

Sabtu, 10 Maret 2018

Siti Muthi'ah (wanita pertama yang masuk surga)

SITI MUTHI’AH: Wanita Pertama Yang Masuk Surga?
Suatu ketika, Siti fatimah bertanya kepada Rosulullah. Siapakah Perempuan yang kelak pertama kali masuk surga?
Rosulullah menjawab:” Dia adalah seorang wanita yang bernama Muti’ah”.
Siti Fatimah terkejut. Ternyata bukan dirinya, seperti yang dibayangkannya. Mengapa justru orang lain, padahal dia adalah putri Rosulullah sendiri? Maka timbullah keinginan fatimah untuk mengetahui siapakan gerangan permpuan itu? Dan apakah yang telah di perbuatnya hingga dia mendapat kehormatan yang begitu tinggi?
Setelah minta izin kepada suaminya, Ali Bin Abi Thalib, Siti Fatimah berngkat mencari rumah kediaman Muti’ah. Putranya yang masih kecil yang bernama Hasan diajak ikut serta.
Ketika tiba di rumah Muti’ah,
Siti Fatimah mengetuk pintu seraya memberi salam, “Assalamu’alaikum…!”
“Wa’alaikumussalaam! Siapa di luar?” terdengar jawaban yang lemah lembut dari dalam rumah. Suaranya cerah dan merdu.
“Saya Fatimah, Putri Rosulullah,” sahut Fatimah kembali.
“Alhamdulillah, alangkah bahagia saya hari ini Fatimah, putri Rosululah, sudi berkunjung ke gubug saya,” terdengar kembali jawaban dari dalam. Suara itu terdengar ceria dan semakin mendekat ke pintu.
“Sendirian, Fatimah?” tanya seorang perempuan sebaya dengan Fatimah, Yaitu Muti’ah seraya membukakan pintu.
“Aku ditemani Hasan,” jawab Fatimah.
“Aduh maaf ya,” kata Muti’ah, suaranya terdengar menyesal. Saya belum mendapat izin dari suami saya untuk menerima tamu laki-laki.”
“Tapi Hasan kan masih kecil?” jelas Fatimah.
“Meskipun kecil, Hasan adalah seorang laki-laki. Besok saja Anda datang lagi, ya? saya akan minta izin dulu kepada suami saya,” kata Mutiah dengan menyesal.
Sambil menggeleng-gelengkan kepala , Fatimah pamit dan kembali pulang.
Besoknya, Fatimah dating lagi ke rumah Muti’ah, kali ini a ditemani oleh Hasan dan Husain. Beritga mereka mendatangi rumah Muti’ah.
Setelah memberi salam dan dijawab gembira, masih dari dalam rumah Muti’ah bertanya:
“Kau masih ditemani oleh Hasan, Fatimah? Suami saya sudah memberi izin.” “Ha? Kenapa kemarin tidak bilang? Yang dapat izin cuma Hasan, dan Husain belum. Terpaksa saya tidak bisa menerimanya juga, “ dengan perasaan menyesal, Muti’ah kai ini juga menolak.
Hari itu Fatimah gagal lagi untuk bertemu dengan Muti’ah. Dan keesokan harinya Fatimah kembali lagi, mereka disambut baik oleh perempuan itu dirumahnya.
Keadaan rumah Mutiah sangat sederhana, tak ada satupun perabot mewah yang menghiasi rumah itu. Namun, semuanya teratur rapi. Tempat tidur yang terbuat dengan kasar juga terlihat bersih, alasnya yang putih, dan baru dicuci. Bau dalam ruangan itu harum dan sangat segar, membuat orang betah tinggal di rumah.
Fatimah sangat kagum melihat suasana yang sangat menyenangkan itu, sehngga Hasan dan Husain yang biasanya tak begitu betah betah berada di rumah orang, kali ini nampak asyik bermain-main.
“Maaf ya, saya tak bisa menemani Fatimah duduk dengan tenang, sebab saya harus menyiapkan makan buat suami saya,” kata Mutiah sambil mondar mandir dari dapur ke ruang tamu.
Mendekati tengah hari , maskan itu sudah siap semuanya, kemudian ditaruh di atas nampan. Mutiah mengambil cambuk, yang juga ditaruh di atas nampan.
“Suamimu bekerja dimana?” Tanya Fatimah
“Di ladang,” jawab Muti’ah.
“Pengembala?” Tanya Fatimah lagi.
“Bukan. Bercocok tanam.”
“Tapi, mengapa kau bawakan cambuk?”
“Oh, itu?” sahut Mutiah denga tersenyu.” Cambuk itu kusediakan untuk keperluan lain. Maksudnya begini, kalau suami saya sedang makan, lalu kutanyakan apakah maskan saya cocok atau tidak? Kalau dia mengatakan cocok, maka tak akan terjadi apa-apa. Tetapi kalau dia bilang tidak cocok, cambuk itu akan saya berikan kepadanya, agar punggung saya dicambuknya, sebab berarti saya tidak bisa melayani suami dan menyenangkan hatinya.”
“Apakah itu kehendak suamimu?” Tanya Fatimah keheranan.
“Oh, bukan! Suami saya adalah seorang penuh kasih sayang. Ini semua adalah kehendakku sendiri, agar aku jangan sampai menjadi istri yang durhaka kepada suami.”
Mendengar penjelasan itu, Fatimah menggeleng-gelengkan kepala. Kemudian ia meminta diri, pamit pulang.
“Pantas kalau Muti’ah kelak menjadi seorang perempuan yang pertama kali masuk surga,” kata Fatimah dalam hati, di tengah perjalannya pulang, “Dia sangat berbakti kepada suami dengan tulus. Prilaku kesetiaan semacam itu bukanlah lambing perbudadakan wanita oleh kaum lelaki, Tapi merupakan cermin bagi citra ketulusan dan pengorbanan kaum wanita yang harus dihargai dengan prilaku yang sama.”
tak hanya itu, saat itu masih ada benda kipas dan kain kecil.
“Buat apa benda ini Muthi’ah?” Siti Muthi’ah tersenyam malu. Namun setelah didesak iapun bercerita. “Engkau tahu Fatimah, suamiku seorang pekerja keras memeras keringat dari hari ke hari. Aku sangat sayang dan hormat kepadanya. Begitu kulihat ia pulang kerja, cepat-cepat kusambut kedatangannya. Kubuka bajunya, kulap tubuhnya dengan kain kecil ini hingga kering keringatnya. Ia-pun berbaring ditempat tidur melepas lelah, lalu aku kipasi beliau hingga lelahnya hilang atau tertidur pulas”
Sungguh mulia Siti Muthi’ah, wanita yang taat kepada suaminya. maka tidaklah salah jika dia wanita pertama yang masuk surga.
Semoga Bermanfaat..

Ma'had Aly Darussalam Martapura Kalimantan Selatan

Ma'had Aly Darussalam Martapura  pertama kali dibuka pada  bulan  Juli  2002,  namun  baru  ada  tanggal  2  November 2002  M.  bertepatan  pada  dengan  tanggal  26  Sya'ban  1423  H, perguruan  tinggi  ini  diresmikan  oleh  MenteriAgama  Rl  yang saat  itu  dijabat  oleh  Prof.  DR.  H.  Said  Agil  Husin  AlMunawwar, MA,  sebagai mudir-nya dipercayakan kepada KH. M.  Hatim  Salman,  Lc.  yang  merupakan  salah  satu  penggagas berdirinya Ma'had Aly Darussalam.

Ma'had  Aly  didirikan  sebagai  wadah  bagi  para  santri yang  ingin  melanjutkan  pendidikannya  setelah  lulus  dari Madrasah  Diniyah  Ulya,dapat  dikatakan  bahwa  Ma'had  Aly Darussalam  merupakan  study  lanjutan  dari  angkatan  Ulya  ke Perguruan Tinggi Diniyah (Jurusan Fiqh). Oleh  karena  itu  sedikit  banyak  metode  pendidikannya sama perguruan tinggi lainnya, namun tetap tidak meninggalkan manhaj  serta  kultur  madrasah  diniyah.  Metode  pendidikan  di Ma'had  Aly  Darussalam  merupakan  kolaborasi  antara  Manhaj pendidikan  tradisional,  yaitu  mengkaji  Kitab-kitab berbahasaArab,  dengan  mendengarkan  penjelasan  ustadz,  dan metode  sekarang  yang  lebih  menekankan  pada  system mudzakarah atau diskusi.
Mungkin  hal  itu  membuat  Ma'had  Aly  agak  berbeda dengan  kebanyakan  Perguruan  Tinggi  Islam  yang  ada  di lndonesia,  karena  mengkhususkan  diri  pada  pengkajian khazanah  ilmiah  Islam  dari  bahasa  aslinya  (baca  Arab)  semua buku/kitab  panduan  yang  digunakan  baik  salaf  ataupun kontemporer  yang  ditentukan  oleh  kurikulum  menggunakan bahasa Arab.

Pendidikan  di  Ma'had  Aly  Darussalam  dititik  beratkan pada Hukum lslam, tepatnya fiqh Islam, oleh karena itu semua pelajarannya  berorentasi  kepada  fiqh  serta  ilmu-ilmu pendukungnya diantaranya ialah:
Fiqh (Syarah Mahalli „ala Minhajit thalibin)
Fiqh Muqarin/Perbandingan Mazhab (Al-wadhih)
Ushul Fiqh (Ushul Fiqh li Syekh Abdul Wahab Khallaf)
Qawaid  Fiqh  (Idhahul  Qawaidil  Fiqhiyyah  &  Fawaidul Janiyyah)
Tafsirul Ahkam (Rawai'ul bayan fi Tafsiri Ayatil Ahkam)
Hadist (Sunan Abi Daud)
Ushul hadist (Mushthalahul Hadist & Al-Khatib)
Faraidh (Al-Mawarist & As-Syansuriah)
Falak (Risalah Mukhtasharul Auqat)

Selain  mempelajari  kitab-kitab  yang  ditentukan  oleh kurikulum  pada  waktu-waktu  tertentu,  juga  diadakan mudzakarah/diskusi  kitau-kitab  fiqh  yang  lain.  Muzdakarah  ini bisa dengan panduan seorang Dosen/ustazd dan bisa juga sesama Mahasantri/wati.

Sumber: http://www.pp-darussalam.com/2016/07/sejarah-berdirinya-mahad-aly-darussalam.html?m=1

Madrasah Tahfizul Qur'an Darussalam Martapura Kalimantan Selatan

Madrasah Tahfizul  Qur‟an Darussalam  Martapura  adalah madrasah  dengan  pendidikan  khusus  Tahfizul  Qur‟an  yakni wadah untuk belajar menghafal Al-Qur'an berikut segala ilmu pengetahuan  yang  berhubungan  dengan  Al-Qur‟an.  Materi pelajaran adalah  sama  seperti  pada  PP.  Darussalam  Martapura namun ditambah Tahfiz atau menghafal Al-Qur'an dan Ilmu AlQur'an.

Adapun  yang  melatarbelakangi  berdirinya  PP. Darussalam Tahfizul  Qur'an  Martapura  ini  yakni  perlu mempersiapkan  generasi  Tahfiz  khususnya  di  PP.  Darussalam sebagai  penerus  kader-kader  Al-Qur‟an.  Mampu  membaca dengan  baik  dan  benar  sesuai  dengan  baik  dan  benar  sesuai dengan  kaidah  Ilmu  Tajwid  dan  menguasai  Ilmu  Al-Qur'an sehingga  dapat  memahami,  menghayati  dan  mengamalkan dalam  kehidupan  dengan  baik  termasuk  mengajarkan  kembali kepada masyarakat.
Dengan keinginan yang tulus dari para kiayi untuk ikut serta memelihara dan menjaga kemurnian Al-Qur'an dan untuk menjawab  tantangan  zaman  yang  selalu  berkembang  dari generasi  ke  generasi  maka  didirikanlah  MadrasahTahfizul Qur‟an  Darussalam Martapura walaupun pada awalnya dengan fasilitas  seadanya.  Dan  juga  untuk  melengkapi  cabang  ilmu yang  diajarkan  di  PP.  Darussalam  Martapura  karena  setiap kampung diwajibkan ada satu orang yang hafal Al-Qur‟an maka Pondok  Pesantren  Tahfizul  Qur'an  ini  diharapkan  bisa memenuhi  kewajiban  fardu  kifayah  di  tiap-tiap  kampung tersebut.

Pada  awal  mulai  berdirinya  pembelajaran  Tahfizul Qur'an  Martapura  bertempat  di  musholla  PP.  Darussalam Pasayangan  Martapura  dengan  jumlah  santri  kurang  lebih  70 orang.  Tahfizul  Qur'an  ini  diresmikan  pada  hari  Rabu  tanggal 20  September  2000  oleh  Wakil  Bupati  Banjar  dengan menempati  musholla  PP.  Darussalam  Martapura.  Melewati tahun pertama jumlah santri bertambah kurang lebih 140 orang.

Melihat kondisi yang demikian timbul keinginan ustadz-ustadz untuk  membentuk lembaga pendidikan dengan  program khusus Tahfizul  Qur'an  yang  santrinya  menguasai  ilmu  pengetahuan Al-Qur‟an.  Untuk  itu  beberapa  ustadz  berkumpul  dan bermusyawarah,  hasilnya  pada  tanggal  17  Oktober  2001 dibentuklah  Madrasah  Tahfidzul  Qur'an  Darussalam  secara mandiri dengan menempati lokasi di  rumah  Jl. Perwira No. 26 RT. 3 RW. 5 Kelurahan Jawa Martapura tepatnya di rumah Hj. Rahmah yang dihibahkan kepada PP. Darussalam.
Kemudian  pada  tanggal  2  Nopember  2002  Menteri Agama  Republik  Indonesia  Prof.  Dr.  H.  Said  Agil  AlMunawwar, M.A. telah menandatangani piagam  berdirinya  PP. DarussalamTahfizul  Qur‟an  Martapura  ini.  Setelah  2  tahun  di Jl.  Perwira jumlah  santri  bertambah  menjadi  kurang  lebih 250 orang, karena tempatnya yang sudah tidak memungkinkan maka timbullah  keinginan  untuk  membangun  gedung  madrasah tersendiri  dengan  fasilitas  yang  mencukupi  hajat  tahfiz  dan dengan sarana yang lengkap dan permanen.

Akhirnya  pada  tanggal  28  April  2003  oleh  H.  Rudy Arifin  Bupati  Banjar  pada  masa  itu  telah  diresmikan pembangunan  gedung  bertingkat  bernilai  2  milyar  bantuan pemerintah  daerah  dan  sumbangan  dari  masyarakat  dermawan muslim  sehingga  terlaksanalah  pembangunan  gedung  Tahfizul Qur‟an yang ada sekarang ini.

Oleh  pimpinan  PP.  Darussalam  yang  pada  saat  itu  KH. Abdus  Syukur  ditunjuklah  KH.M.  Wildan  Salman  sebagai pengajar  sekaligus  pengelola  seluruh  kegiatan  PP.  Darussalam Tahfizul Qur'an  baik dari segi penataan kurikulum, tenaga  pengajar  atau  ustadz  termasuk  menggali  dana  untuk pembiayaan  operasional  dan  pembangunan  sarana  dan prasarana Madrasah Tahfizul Qur'an Darussalam Martapura.

Sarana dan Prasarana
Sebuah Pondok Pesantren atau lembaga pendidikan yang baik tentunya tidak akan terlepas dari sarana dan prasarana yang mencukupi. Karena itulah maka pihak Tahfiz telah membangun sarana  prasarana  yang  cukup  memadai  berupa  bangunan permanen  untuk  ruang  belajar  dan  perkantoran  dan  asrama santri  yang  berlokasi  di  Kompleks  PP.  Darussalam  Desa Tanjung Rema Martapura.Kegiatan pembelajaran dilaksanakan dengan duduk “belapak” di dalam ruang kelas masing-masing.

Sarana  madrasah  ini  selain  digunakan  untuk  kegiatan belajar  formal  juga  digunakan  untuk  pengajian/majelis  ta‟lim, setiap  minggu  lokasi  madrasah  penuh  sesak  oleh  para  santri yang  berbaur  dengan  masyarakat  umum  untuk  mendengarkan pengajian yang diasuh oleh KH. M. Wildan Salman.

Keadaan Ustadz dan Santri
Ustadz  atau  guru  adalah  salah  satu  hal  yang  terpenting dalam  proses  penghafalan  Al-Qur‟an,  karena  ustadz memberikan arahan bagi santrinya dalam menghafal Al-Qur‟an.

Ustadz/guru  yang  paling  utama  adalah  KH.  M.  Wildan Salman, beliau  adalah  Pimpinan  dari  Madrasah Tahfizul Qur‟anDarussalam  Martapura,  beliau  seorang  hafidz  yang pernah lama tinggal  di Mekkah tepatnya, disana beliau belajar dan  juga  mengajarkan  Al-Qur'an  serta  berbagai  macam  ilmu Al-Qur‟an.  Beliau  bertindak  sebagai  pembimbing  tahfiz  dan juga sebagai guru mata pelajaran.

Adapun  struktur  personalia  kepengurusan  Madrasah Tahfizh  Al-Qur'an  Darussalam  tahun  ajaran  2012/2013  adalah sebagai berikut :
Pembina/Pimpinan  : KH. Muhammad Wildan Salman
Ketua Dewan Guru  : KH. Muhammad Wildan Salman
Wakil Ketua  : Ahmad
Sekretaris  : M. Ubaidullah Syamsi
Bendahara  : H. Zainal Ilmi
Staf  : H. Makki
Dewan Guru  : Berjumlah 11 orang

Sumber: http://www.pp-darussalam.com/2016/07/sejarah-berdirinya-madrasah-tahfidz-quran.html?m=1

PP. Darussalam Martapura Kalimantan Selatan

Pondok Pesantren Darussalam adalah sebuah pondok pesantren yang berlokasi di kawasan Pasayangan, Martapura, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, Indonesia. Ponpes ini didirikan pada tahun 1914 oleh K.H. Jamaluddin, salah seorang ulama terkemuka pada saat itu, yang merupakan pendiri sekaligus pemimpin pertama pesantren Darussalam.

Pondok Pesantren ini merupakan pesantren tertua di Kalimantan dan telah melahirkan banyak ulama terkemuka dan menjadi tempat penting pendidikan dan regenerasi ulama di Kalimantan. Hampir seluruh silsilah murid-guru di Kalimantan Selatan bermuara di pesantren ini.

Sejarah dan perkembangan

Pondok Pesantren Darussalam berdiri 14 Juli 1914 di Martapura, Kalimantan Selatan. KH. Djamaluddin, salah seorang Ulama terkemuka pada saat itu adalah pendiri sekaligus pemimpin pertama pesantren Darussalam. Berlokasi di Jl. K.H.M. Kasyful Anwar Pasayangan Martapura, pesantren tersebut memiliki peran penting bagi sejarah perkembangan islam di Kalimantan Selatan. Pesantren Darussalam kemudian menjadi acuan bagi perkembangan pesantren-pesantren lain yang berdiri kemudian di propinsi tersebut.

Keputusan KH. Jamaluddin untuk mendirikan pesantren dilandasi dengan semangat dalam rangka pengembangan agama islam di wilayah Kalimantan Selatan. Selain itu, daerah ini memang dikenal memiliki tradisi keagamaan yang sangat kuat. Bahkan, sejumlah ulama Indonesia terkemuka berasal dari daerah ini. Oleh karena itu, KH. Djamaluddin kemudian melihat bahwa pesantren merupakan satu upaya terbaik saat itu untuk mengembangkan islam, khususnya di wilayahnya. Setelah dia meninggal dunia digantikan oleh KH. Hasan Ahmad.

Pada awal berdirinya, pesantren Darussalam menggunakan sistem pengajaran tradisional. Materi-materi yang diajarkan terbatas hanya di bidang keagamaan. Begitu pula, bangunan pesantren masih sangat sederhana, hanya untuk pengajaran keagamaan dengan cara halaqah, dimana para murid duduk bersimpuh mengelilingi guru sambil mendengarkan materi keagamaan yang diberikan.

Perkembangan pesantren Darussalam mengalami lompatan besar ketika pesantren dipimpin KH. Kasyful Anwar. Ia menggantikan KH. Hasan Ahmad. Dia menjadi pimpinan pesantren dari tahun 1922 hingga 1940. Pada periode itulah, sejumlah pembaharuan dilakukan dalam rangka meningkatkan pendidikan pesantren. Ia melakukan pemugaran gedung lama diganti gedung baru bertingkat. Gedung itu memiliki enam belas lokal, yang digunakan baik sebagai ruang belajar maupun kantor.

Selain itu, pembaharuan yang dilakukan KH. Kasyful Anwar adalah memperkenalkan sistem klasikal / madrasah pada sistem pendidikan tradisional dengan sistem kelas berjenjang. Mulai dari Tahdiriyah selama 3 tahun, Ibtidaiyah 3 tahun, dan Tsanawiyah 3 tahun. KH. Kaysful Anwar juga melakukan pembaharuan pada kurikulum. Ia tidak lagi membatasi pendidikan pesantren pada mata pelajaran agama islam, tapi juga memasukkan mata pelajaran umum dalam kurikulum yang berlaku dipesantren.

Modernisasi pesantren Darussalam terus berlangsung sejalan dengan perkembangan masyarakat sekitar. Kebutuhan masyarakat terhadap pendidikan yang makin beragam – yang tidak hanya terbatas dibidang keagamaan – senantiasa memperoleh perhatian yang sangat besar dari pengelola pesantren Darussalam pada periode berikutnya. Oleh karena itu, saat ini pesantren Darussalam tidak hanya mendirikan lembaga pendidikan islam madrasah, tapi juga lembaga pendidikan umum. Pesantren yang berlokasi di Martapura juga memiliki SMP, SPP (Sekolah Pertanian) yang menggunakan kurikulum dari departemen pertanian, dan STM yang mengacu pada Depdiknas. Bahkan, pesantren juga mendirikan Sekolah Tinggi Agama Islam yang dipadu dengan sistem pesantren.

Sebagaimana pesantren lainnya, pesantren darussalam Martapura juga mengembangkan ciri khas untuk menyedot para santri dari daerah sekitarnya. Adapun ciri khas pesantren ini :
Kurikulum pesantren mengacu pada kitab kuning, sementara sekolah menggunakan sistem klasikal.
Pesantren memiliki hubungan sangat dekat dengan masyarakat (community based institution), sehingga Darussalam sekaligus berfungsi sebagai tempat penyelenggaraan kegiatan – kegiatan sosial keagamaan masyarakat.

Penyelenggaraan pendidikan

Pesantren Darussalam yang merupakan pesantren pioneer di wilayah Kalimantan Selatan memiliki sejumlah pendidikan formal. Mulai dari Ibtidaiyah, hingga perguruan tinggi berjejer di pesantren tersebut. Adapun lokasinya khusus di jalan Perwira Komplek Pangeran Antasari Martapura, yang juga sekarang di tambah dengan pendidikan ekstra kurikuler Ula’ dan Wustho Salafiyah pada tempat dan waktu belajar tersendiri. Sedangkan untuk pendidikan diniyah, pesantren menerapkan kurikulum tersendiri.

Sebagaimana pesantren lainnya, pesantren Darussalam Martapura juga sangat memperhatikan pengembangan minat dan bakat para santri. Untuk itu Darussalam juga menyelenggarakan kegiatan ekstra kurikuler antara lain : pengajian Kitab kuning, kursus kerajinan batu aji, kursus otomotif dan las listrik / karbit, kursus menjahit.

Kegiatan Ekonomi

Sebagai pesantren tua di Kalimantan Selatan, Darussalam juga menyelenggarakan kegiatan ekonomi :

Kopontren Darussalam
Warung Serba Ada
Toko Kitab
Warpostel
Kebun Karet
Persawahan
Bengkel las
Percetakan / Foto Copy

Pimpinan

KH. Jamaluddin (1914-1919)
KH. Hasan Ahmad (1919-1922)
KH. M. Kasyful Anwar (1922-1940)
KH. Abd. Qadir Hasan (1940-1959)
KH. Sya’rani Arif (1959-1969)
KH. M. Salim Ma’ruf (1969-1976)
KH. Badruddin (1976-1992)
KH. Abdul Syukur (1992-2007)
KH. Khalilurrahman (2008-2016)
KH. Hasanuddin Badruddin (2016-sekarang)

Sumber : https://id.m.wikipedia.org/wiki/Pondok_Pesantren_Darussalam_Martapura

Kamis, 08 Maret 2018

Istri - istri akhir zaman

Istri - Istri Akhir Zaman
Oleh: Sulthonul Ilmi Al Habib Salim Bin Abdullah Assyatiry
Rubbath Tareem.

“Inilah yang terjadi pada istri-istri pada akhir zaman ini.

Ketika mereka berada dirumahnya :
•Dihadapan suaminya mereka berpakaian seadanya
•Rambut acak-acakan dan aroma badannya pun dibiarkan tak sedap
•Kalo bicara dengan suara keras dan tinggi.

Tetapi ketika keluar dari rumahnya :
•Didepan khalayak ramai bahkan didepan laki-laki lain mereka memakai pakaian-pakaian yang bagus
•Berdandan cantik dan memakai parfum
•Kalo bicara dengan suara yang dilemah lembutkan.
•Mereka bebas keluar dari rumahnya tanpa ada
keberanian dari sang suami untuk menegur tetapi kebalikanya ketika suami terlambat pulang sedikit saja langsung dibentak dan dinterogasi.

Wahai saudariku…
Inilah kenyataan yang terjadi pada rumah tangga kaum muslimin,dimana yang memegang kendali dalam rumah tangga adalah ISTRI,bahkan terkadang suaminya adalah seorang yang abid (Ahli 'Ibadah), tapi dia telah membiarkan istrinya durhaka terhadapnya dengan tidak memberikan pendidikan terhadap istrinya.
Dalam hadits Rasullullah Shollallahu ‘Alaihi Wa sallam bersabda :
“Sebaik-baik istri yaitu yang menyenangkanmu ketika kamu lihat, taat kepadamu ketika kamu suruh, menjaga dirinya dan hartamu ketika kamu pergi.“
(HR.Thabarani)

Siapakah wanita yang paling baik…?
Jawab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :
“Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci.”
(HR. An-Nasai dan Ahmad)

Abdullah bin Abbas radhiallahuanhu,berkata :
“Sesungguhnya aku selalu berhias untuk istriku seperti berhiasnya dirinya untukku.”

اللهم صل على سيدنا محمد وعلى آل سيدنا محمد
Allahumma Sholli ‘Ala Sayyidina Muhammadin Wa ‘Ala Ali Sayyidina Muhammad.

_*KEUTAMAAN_WANITA*_

1. Doa seorang isteri yg taat memiliki kekuatan 70 wali

2. Isteri yg membuatkan minum suami tanpa diminta, pahalanya 3x khatam Qur'an.

3. Masakan isteri yg dilakukan secara sunah dan dimakan suami beserta keluarga pahalanya semua untuk isteri dan do'a suami yg memakan masakannya menjadi do'a yg diijabah.

4. Isteri yg membangunkan suami untuk sholat atau mengingatkan sholat berjamaah di masjid pahalanya 27+1

5. Isteri yg kelelahan bangun malam karena anaknya minta susu sama dengan pahala 70x haji mabrur

6. Seorang ibu yg menyusui setiap tetes susunya senilai 200x sholat khusyu dan doanya di ijabah' (fadilah wanita)

7. Burung di udara dan malaikat dilangit akan selalu memintakan ampunan kepada Allah selama Isteri dalam keridhoan suami.

8. Bila seorang suami pulang dengan gelisah dan isteri menghiburnya maka isteri mendapatkan 10 pahala jihad.

9. Bila seorang wanita hamil sholatnya dua rekaat adalah lebih baik dari 80 rakaat sholat wanita yg tidak hamil.

10. Bila seorang wanita hamil akan mendapatkan pahala 70 tahun sholat dan 70 tahun puasa.

11. Wanita yg mencuci pakaian suami dan anak-anaknya akan mendapat 1000 kebaikan dan akan diampuni kesalahannya, bahkan segala sesuatu yang disinari matahari memintakan ampun baginya dan Allah SWT mengangkat derajatnya 1000 tingkat.

12. Wanita yg menyusui anaknya, maka setiap tetesan air susu tersebut akan mendapatkan 1 pahala dan apabila cukup 2 tahun menyusui maka malaikat dilangit akan mengabarkan berita bahwa SURGA wajib bagi nya".

13. Apabila sorang wanita kedatangan haid maka haidnya akan menghapus dosa2nya.

14. Apabila ia membaca pada hari pertama keluar haid :
الحمدلِلّٰهِ على كل حال وأستغفر ﷲ من كل ذنب
"Alhamdulilahi ala kullu halin wa astagfirullaha min kulli zanbi" Maka Allah Swt akan membebaskannya dr jahanam, shirat & adzab.

15. Setiap hari dari haidnya, Allah tinggikan dia dgn pahala 40 orang mati syahid apabila ia berdzikir.

SUBHANALLAAH... betapa sayangnya Allah SWT terhadap kaum wanita.

Dan semoga kita mendapat pasangan hidup yang soleh dan solehah Aamin Yaa Robbal Aalamin

Semoga bermanfaat....

Rabu, 07 Maret 2018

Sayyidatina Khadijah ( Isteri Rasulullah SAW )

*SITI KHADIJAH*
(Istri Rasulullah)

- Siti Khadijah Memang Wanita Istimewa.
DUA PERTIGA (2/3) wilayah Makkah adalah milik Siti Khadijah, istri pertama Rasulullah SAW.
Ia wanita bangsawan yang menyandang kemuliaan dan kelimpahan harta kekayaan.

- Namun ketika wafat, tak selembar kafanpun dia miliki. Bahkan baju yang dikenakannya di saat menjelang ajal adalah pakaian kumuh dengan 83 tambalan.

“Fatimah putriku, aku yakin ajalku segera tiba,” bisik Siti Khadijah kepada Fatimah sesaat menjelang ajal. “Yang kutakutkan adalah siksa kubur.

- Tolong mintakan kepada ayahmu, agar beliau memberikan sorbannya yang biasa digunakan menerima wahyu untuk dijadikan kain kafanku.
Aku malu dan takut memintanya sendiri”.

- Mendengar itu Rasulullah berkata, “Wahai istriku Khadijah, Allah menitipkan salam kepadamu, dan telah dipersiapkan tempatmu di surga”.

- Siti Khadijah, Ummul Mu’minin (ibu kaum mukmin), pun kemudian menghembuskan nafas terakhirnya di pangkuan Rasulullah.

- Didekapnya sang istri itu dengan perasaan pilu yang teramat sangat. Tumpahlah air mata mulia Rasulullah dan semua orang yang ada di situ.

- Dalam suasana seperti itu, Malaikat Jibril turun dari langit dengan mengucap salam dan membawa lima kain kafan.
Rasulullah menjawab salam Jibril, kemudian bertanya, “Untuk siapa sajakah kain kafan itu, ya Jibril?”
“Kafan ini untuk Siti Khadijah, untuk engkau ya Rasulullah, untuk Fatimah, Ali dan Hasan,” jawab Jibril yang tiba-tiba berhenti berkata, kemudian menangis.

- Rasulullah bertanya, “Kenapa, ya Jibril?”
“Cucumu yang satu, Husain, tidak memiliki kafan.
Dia akan dibantai, tergeletak tanpa kafan dan tak dimandikan,” jawab Jibril.

- Rasulullah berkata di dekat jasad Siti Khadijah, “Wahai Khadijah istriku sayang, demi Allah, aku tak kan pernah mendapatkan istri sepertimu.

- Pengabdianmu kepada Islam dan dirimu sungguh luar biasa.
Allah Maha mengetahui semua amalanmu.
Semua hartamu kau hibahkan untuk Islam.
Kaum muslimin pun ikut menikmatinya. Semua pakaian kaum muslimin dan pakaianku ini juga darimu.
Namun begitu, mengapa permohonan terakhirmu kepadaku hanyalah selembar sorban!?”

- Tersedu Rasulullah mengenang istrinya semasa hidup.

- Siti Khadijah
Dikisahkan, suatu hari, ketika Rasulullah pulang dari berdakwah, beliau masuk ke dalam rumah. Khadijah menyambut, dan hendak berdiri di depan pintu, kemudian Rasulullah bersabda, “Wahai Khadijah, tetaplah kamu di tempatmu”.

- Ketika itu Khadijah sedang menyusui Fatimah yang masih bayi.
Saat itu seluruh kekayaan mereka telah habis. Seringkali makanan pun tak punya, sehingga ketika Fatimah menyusu, bukan air susu yang keluar akan tetapi darah.
Darahlah yang masuk dalam mulut Fatimah r.a.

- Kemudian Rasulullah mengambil Fatimah dari gendongan istrinya, dan diletakkan di tempat tidur.
Rasulullah yang lelah sepulang berdakwah dan menghadapi segala caci-maki serta fitnah manusia itu lalu berbaring di pangkuan Khadijah hingga tertidur.

- Ketika itulah Khadijah membelai kepala Rasulullah dengan penuh kelembutan dan rasa sayang.
Tak terasa air mata Khadijah menetes di pipi Rasulullah hingga membuat beliau terjaga.

“Wahai Khadijah, mengapa engkau menangis? Adakah engkau menyesal bersuamikan aku?” tanya Rasulullah dengan lembut.
“Dahulu engkau wanita bangsawan, engkau mulia, engkau hartawan. Namun hari ini engkau telah dihina orang.
Semua orang telah menjauhi dirimu. Seluruh kekayaanmu habis.
Adakah engkau menyesal, wahai Khadijah, bersuamikan aku, Muhammad?" lanjut Rasulullah tak kuasa melihat istrinya menangis.

“Wahai suamiku, wahai Nabi Allah. Bukan itu yang kutangiskan," jawab Khadijah.
"Dahulu aku memiliki kemuliaan. Kemuliaan itu telah aku serahkan untuk Allah dan RasulNya. Dahulu aku adalah bangsawan. Kebangsawanan itu juga aku serahkan untuk Allah dan RasulNya. Dahulu aku memiliki harta kekayaan.
Seluruh kekayaan itupun telah aku serahkan untuk Allah dan RasulNya”.

"Wahai Rasulullah, sekarang aku tak punya apa-apa lagi. Tetapi engkau masih terus memperjuangkan agama ini.
Wahai Rasulullah, sekiranya nanti aku mati sedangkan perjuanganmu belum selesai, sekiranya engkau hendak menyeberangi sebuah lautan, sekiranya engkau hendak menyeberangi sungai namun engkau tidak memperoleh rakit atau pun jembatan, maka galilah lubang kuburku, ambillah tulang-belulangku, jadikanlah sebagai jembatan bagimu untuk menyeberangi sungai itu supaya engkau bisa berjumpa dengan manusia dan melanjutkan dakwahmu”.

"Ingatkan mereka tentang kebesaran Allah.
Ingatkan mereka kepada yang hak. Ajak mereka kepada Islam, wahai Rasulullah”.

- Di samping jasad Siti Khadijah, Rasulullah kemudian berdoa kepada Allah. “Ya Allah, ya Ilahi Rabbiy, limpahkanlah rahmat-Mu kepada Khadijahku, yang selalu membantuku dalam menegakkan Islam. Mempercayaiku pada saat orang lain menentangku. Menyenangkanku pada saat orang lain menyusahkanku. Menenteramkanku pada saat orang lain membuatku gelisah”.

- Rasulullah pun tampak sedih. “Oh Khadijahku sayang, kau meninggalkanku sendirian dalam perjuanganku.
Siapa lagi yang akan membantuku?”
“Aku, ya Rasulullah!” sahut Ali bin Abi Thalib.
jawab ,menantu Rasullulah.....