SITI MUTHI’AH: Wanita Pertama Yang Masuk Surga?
Suatu ketika, Siti fatimah bertanya kepada Rosulullah. Siapakah Perempuan yang kelak pertama kali masuk surga?
Rosulullah menjawab:” Dia adalah seorang wanita yang bernama Muti’ah”.
Siti Fatimah terkejut. Ternyata bukan dirinya, seperti yang dibayangkannya. Mengapa justru orang lain, padahal dia adalah putri Rosulullah sendiri? Maka timbullah keinginan fatimah untuk mengetahui siapakan gerangan permpuan itu? Dan apakah yang telah di perbuatnya hingga dia mendapat kehormatan yang begitu tinggi?
Setelah minta izin kepada suaminya, Ali Bin Abi Thalib, Siti Fatimah berngkat mencari rumah kediaman Muti’ah. Putranya yang masih kecil yang bernama Hasan diajak ikut serta.
Ketika tiba di rumah Muti’ah,
Siti Fatimah mengetuk pintu seraya memberi salam, “Assalamu’alaikum…!”
“Wa’alaikumussalaam! Siapa di luar?” terdengar jawaban yang lemah lembut dari dalam rumah. Suaranya cerah dan merdu.
“Saya Fatimah, Putri Rosulullah,” sahut Fatimah kembali.
“Alhamdulillah, alangkah bahagia saya hari ini Fatimah, putri Rosululah, sudi berkunjung ke gubug saya,” terdengar kembali jawaban dari dalam. Suara itu terdengar ceria dan semakin mendekat ke pintu.
“Sendirian, Fatimah?” tanya seorang perempuan sebaya dengan Fatimah, Yaitu Muti’ah seraya membukakan pintu.
“Aku ditemani Hasan,” jawab Fatimah.
“Aduh maaf ya,” kata Muti’ah, suaranya terdengar menyesal. Saya belum mendapat izin dari suami saya untuk menerima tamu laki-laki.”
“Tapi Hasan kan masih kecil?” jelas Fatimah.
“Meskipun kecil, Hasan adalah seorang laki-laki. Besok saja Anda datang lagi, ya? saya akan minta izin dulu kepada suami saya,” kata Mutiah dengan menyesal.
Sambil menggeleng-gelengkan kepala , Fatimah pamit dan kembali pulang.
Besoknya, Fatimah dating lagi ke rumah Muti’ah, kali ini a ditemani oleh Hasan dan Husain. Beritga mereka mendatangi rumah Muti’ah.
Setelah memberi salam dan dijawab gembira, masih dari dalam rumah Muti’ah bertanya:
“Kau masih ditemani oleh Hasan, Fatimah? Suami saya sudah memberi izin.” “Ha? Kenapa kemarin tidak bilang? Yang dapat izin cuma Hasan, dan Husain belum. Terpaksa saya tidak bisa menerimanya juga, “ dengan perasaan menyesal, Muti’ah kai ini juga menolak.
Hari itu Fatimah gagal lagi untuk bertemu dengan Muti’ah. Dan keesokan harinya Fatimah kembali lagi, mereka disambut baik oleh perempuan itu dirumahnya.
Keadaan rumah Mutiah sangat sederhana, tak ada satupun perabot mewah yang menghiasi rumah itu. Namun, semuanya teratur rapi. Tempat tidur yang terbuat dengan kasar juga terlihat bersih, alasnya yang putih, dan baru dicuci. Bau dalam ruangan itu harum dan sangat segar, membuat orang betah tinggal di rumah.
Fatimah sangat kagum melihat suasana yang sangat menyenangkan itu, sehngga Hasan dan Husain yang biasanya tak begitu betah betah berada di rumah orang, kali ini nampak asyik bermain-main.
“Maaf ya, saya tak bisa menemani Fatimah duduk dengan tenang, sebab saya harus menyiapkan makan buat suami saya,” kata Mutiah sambil mondar mandir dari dapur ke ruang tamu.
Mendekati tengah hari , maskan itu sudah siap semuanya, kemudian ditaruh di atas nampan. Mutiah mengambil cambuk, yang juga ditaruh di atas nampan.
“Suamimu bekerja dimana?” Tanya Fatimah
“Di ladang,” jawab Muti’ah.
“Pengembala?” Tanya Fatimah lagi.
“Bukan. Bercocok tanam.”
“Tapi, mengapa kau bawakan cambuk?”
“Oh, itu?” sahut Mutiah denga tersenyu.” Cambuk itu kusediakan untuk keperluan lain. Maksudnya begini, kalau suami saya sedang makan, lalu kutanyakan apakah maskan saya cocok atau tidak? Kalau dia mengatakan cocok, maka tak akan terjadi apa-apa. Tetapi kalau dia bilang tidak cocok, cambuk itu akan saya berikan kepadanya, agar punggung saya dicambuknya, sebab berarti saya tidak bisa melayani suami dan menyenangkan hatinya.”
“Apakah itu kehendak suamimu?” Tanya Fatimah keheranan.
“Oh, bukan! Suami saya adalah seorang penuh kasih sayang. Ini semua adalah kehendakku sendiri, agar aku jangan sampai menjadi istri yang durhaka kepada suami.”
Mendengar penjelasan itu, Fatimah menggeleng-gelengkan kepala. Kemudian ia meminta diri, pamit pulang.
“Pantas kalau Muti’ah kelak menjadi seorang perempuan yang pertama kali masuk surga,” kata Fatimah dalam hati, di tengah perjalannya pulang, “Dia sangat berbakti kepada suami dengan tulus. Prilaku kesetiaan semacam itu bukanlah lambing perbudadakan wanita oleh kaum lelaki, Tapi merupakan cermin bagi citra ketulusan dan pengorbanan kaum wanita yang harus dihargai dengan prilaku yang sama.”
tak hanya itu, saat itu masih ada benda kipas dan kain kecil.
“Buat apa benda ini Muthi’ah?” Siti Muthi’ah tersenyam malu. Namun setelah didesak iapun bercerita. “Engkau tahu Fatimah, suamiku seorang pekerja keras memeras keringat dari hari ke hari. Aku sangat sayang dan hormat kepadanya. Begitu kulihat ia pulang kerja, cepat-cepat kusambut kedatangannya. Kubuka bajunya, kulap tubuhnya dengan kain kecil ini hingga kering keringatnya. Ia-pun berbaring ditempat tidur melepas lelah, lalu aku kipasi beliau hingga lelahnya hilang atau tertidur pulas”
Sungguh mulia Siti Muthi’ah, wanita yang taat kepada suaminya. maka tidaklah salah jika dia wanita pertama yang masuk surga.
Semoga Bermanfaat..
Sabtu, 10 Maret 2018
Siti Muthi'ah (wanita pertama yang masuk surga)
Ma'had Aly Darussalam Martapura Kalimantan Selatan
Ma'had Aly Darussalam Martapura pertama kali dibuka pada bulan Juli 2002, namun baru ada tanggal 2 November 2002 M. bertepatan pada dengan tanggal 26 Sya'ban 1423 H, perguruan tinggi ini diresmikan oleh MenteriAgama Rl yang saat itu dijabat oleh Prof. DR. H. Said Agil Husin AlMunawwar, MA, sebagai mudir-nya dipercayakan kepada KH. M. Hatim Salman, Lc. yang merupakan salah satu penggagas berdirinya Ma'had Aly Darussalam.
Ma'had Aly didirikan sebagai wadah bagi para santri yang ingin melanjutkan pendidikannya setelah lulus dari Madrasah Diniyah Ulya,dapat dikatakan bahwa Ma'had Aly Darussalam merupakan study lanjutan dari angkatan Ulya ke Perguruan Tinggi Diniyah (Jurusan Fiqh). Oleh karena itu sedikit banyak metode pendidikannya sama perguruan tinggi lainnya, namun tetap tidak meninggalkan manhaj serta kultur madrasah diniyah. Metode pendidikan di Ma'had Aly Darussalam merupakan kolaborasi antara Manhaj pendidikan tradisional, yaitu mengkaji Kitab-kitab berbahasaArab, dengan mendengarkan penjelasan ustadz, dan metode sekarang yang lebih menekankan pada system mudzakarah atau diskusi.
Mungkin hal itu membuat Ma'had Aly agak berbeda dengan kebanyakan Perguruan Tinggi Islam yang ada di lndonesia, karena mengkhususkan diri pada pengkajian khazanah ilmiah Islam dari bahasa aslinya (baca Arab) semua buku/kitab panduan yang digunakan baik salaf ataupun kontemporer yang ditentukan oleh kurikulum menggunakan bahasa Arab.
Pendidikan di Ma'had Aly Darussalam dititik beratkan pada Hukum lslam, tepatnya fiqh Islam, oleh karena itu semua pelajarannya berorentasi kepada fiqh serta ilmu-ilmu pendukungnya diantaranya ialah:
Fiqh (Syarah Mahalli „ala Minhajit thalibin)
Fiqh Muqarin/Perbandingan Mazhab (Al-wadhih)
Ushul Fiqh (Ushul Fiqh li Syekh Abdul Wahab Khallaf)
Qawaid Fiqh (Idhahul Qawaidil Fiqhiyyah & Fawaidul Janiyyah)
Tafsirul Ahkam (Rawai'ul bayan fi Tafsiri Ayatil Ahkam)
Hadist (Sunan Abi Daud)
Ushul hadist (Mushthalahul Hadist & Al-Khatib)
Faraidh (Al-Mawarist & As-Syansuriah)
Falak (Risalah Mukhtasharul Auqat)
Selain mempelajari kitab-kitab yang ditentukan oleh kurikulum pada waktu-waktu tertentu, juga diadakan mudzakarah/diskusi kitau-kitab fiqh yang lain. Muzdakarah ini bisa dengan panduan seorang Dosen/ustazd dan bisa juga sesama Mahasantri/wati.
Sumber: http://www.pp-darussalam.com/2016/07/sejarah-berdirinya-mahad-aly-darussalam.html?m=1
Madrasah Tahfizul Qur'an Darussalam Martapura Kalimantan Selatan
Madrasah Tahfizul Qur‟an Darussalam Martapura adalah madrasah dengan pendidikan khusus Tahfizul Qur‟an yakni wadah untuk belajar menghafal Al-Qur'an berikut segala ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan Al-Qur‟an. Materi pelajaran adalah sama seperti pada PP. Darussalam Martapura namun ditambah Tahfiz atau menghafal Al-Qur'an dan Ilmu AlQur'an.
Adapun yang melatarbelakangi berdirinya PP. Darussalam Tahfizul Qur'an Martapura ini yakni perlu mempersiapkan generasi Tahfiz khususnya di PP. Darussalam sebagai penerus kader-kader Al-Qur‟an. Mampu membaca dengan baik dan benar sesuai dengan baik dan benar sesuai dengan kaidah Ilmu Tajwid dan menguasai Ilmu Al-Qur'an sehingga dapat memahami, menghayati dan mengamalkan dalam kehidupan dengan baik termasuk mengajarkan kembali kepada masyarakat.
Dengan keinginan yang tulus dari para kiayi untuk ikut serta memelihara dan menjaga kemurnian Al-Qur'an dan untuk menjawab tantangan zaman yang selalu berkembang dari generasi ke generasi maka didirikanlah MadrasahTahfizul Qur‟an Darussalam Martapura walaupun pada awalnya dengan fasilitas seadanya. Dan juga untuk melengkapi cabang ilmu yang diajarkan di PP. Darussalam Martapura karena setiap kampung diwajibkan ada satu orang yang hafal Al-Qur‟an maka Pondok Pesantren Tahfizul Qur'an ini diharapkan bisa memenuhi kewajiban fardu kifayah di tiap-tiap kampung tersebut.
Pada awal mulai berdirinya pembelajaran Tahfizul Qur'an Martapura bertempat di musholla PP. Darussalam Pasayangan Martapura dengan jumlah santri kurang lebih 70 orang. Tahfizul Qur'an ini diresmikan pada hari Rabu tanggal 20 September 2000 oleh Wakil Bupati Banjar dengan menempati musholla PP. Darussalam Martapura. Melewati tahun pertama jumlah santri bertambah kurang lebih 140 orang.
Melihat kondisi yang demikian timbul keinginan ustadz-ustadz untuk membentuk lembaga pendidikan dengan program khusus Tahfizul Qur'an yang santrinya menguasai ilmu pengetahuan Al-Qur‟an. Untuk itu beberapa ustadz berkumpul dan bermusyawarah, hasilnya pada tanggal 17 Oktober 2001 dibentuklah Madrasah Tahfidzul Qur'an Darussalam secara mandiri dengan menempati lokasi di rumah Jl. Perwira No. 26 RT. 3 RW. 5 Kelurahan Jawa Martapura tepatnya di rumah Hj. Rahmah yang dihibahkan kepada PP. Darussalam.
Kemudian pada tanggal 2 Nopember 2002 Menteri Agama Republik Indonesia Prof. Dr. H. Said Agil AlMunawwar, M.A. telah menandatangani piagam berdirinya PP. DarussalamTahfizul Qur‟an Martapura ini. Setelah 2 tahun di Jl. Perwira jumlah santri bertambah menjadi kurang lebih 250 orang, karena tempatnya yang sudah tidak memungkinkan maka timbullah keinginan untuk membangun gedung madrasah tersendiri dengan fasilitas yang mencukupi hajat tahfiz dan dengan sarana yang lengkap dan permanen.
Akhirnya pada tanggal 28 April 2003 oleh H. Rudy Arifin Bupati Banjar pada masa itu telah diresmikan pembangunan gedung bertingkat bernilai 2 milyar bantuan pemerintah daerah dan sumbangan dari masyarakat dermawan muslim sehingga terlaksanalah pembangunan gedung Tahfizul Qur‟an yang ada sekarang ini.
Oleh pimpinan PP. Darussalam yang pada saat itu KH. Abdus Syukur ditunjuklah KH.M. Wildan Salman sebagai pengajar sekaligus pengelola seluruh kegiatan PP. Darussalam Tahfizul Qur'an baik dari segi penataan kurikulum, tenaga pengajar atau ustadz termasuk menggali dana untuk pembiayaan operasional dan pembangunan sarana dan prasarana Madrasah Tahfizul Qur'an Darussalam Martapura.
Sarana dan Prasarana
Sebuah Pondok Pesantren atau lembaga pendidikan yang baik tentunya tidak akan terlepas dari sarana dan prasarana yang mencukupi. Karena itulah maka pihak Tahfiz telah membangun sarana prasarana yang cukup memadai berupa bangunan permanen untuk ruang belajar dan perkantoran dan asrama santri yang berlokasi di Kompleks PP. Darussalam Desa Tanjung Rema Martapura.Kegiatan pembelajaran dilaksanakan dengan duduk “belapak” di dalam ruang kelas masing-masing.
Sarana madrasah ini selain digunakan untuk kegiatan belajar formal juga digunakan untuk pengajian/majelis ta‟lim, setiap minggu lokasi madrasah penuh sesak oleh para santri yang berbaur dengan masyarakat umum untuk mendengarkan pengajian yang diasuh oleh KH. M. Wildan Salman.
Keadaan Ustadz dan Santri
Ustadz atau guru adalah salah satu hal yang terpenting dalam proses penghafalan Al-Qur‟an, karena ustadz memberikan arahan bagi santrinya dalam menghafal Al-Qur‟an.
Ustadz/guru yang paling utama adalah KH. M. Wildan Salman, beliau adalah Pimpinan dari Madrasah Tahfizul Qur‟anDarussalam Martapura, beliau seorang hafidz yang pernah lama tinggal di Mekkah tepatnya, disana beliau belajar dan juga mengajarkan Al-Qur'an serta berbagai macam ilmu Al-Qur‟an. Beliau bertindak sebagai pembimbing tahfiz dan juga sebagai guru mata pelajaran.
Adapun struktur personalia kepengurusan Madrasah Tahfizh Al-Qur'an Darussalam tahun ajaran 2012/2013 adalah sebagai berikut :
Pembina/Pimpinan : KH. Muhammad Wildan Salman
Ketua Dewan Guru : KH. Muhammad Wildan Salman
Wakil Ketua : Ahmad
Sekretaris : M. Ubaidullah Syamsi
Bendahara : H. Zainal Ilmi
Staf : H. Makki
Dewan Guru : Berjumlah 11 orang
Sumber: http://www.pp-darussalam.com/2016/07/sejarah-berdirinya-madrasah-tahfidz-quran.html?m=1
PP. Darussalam Martapura Kalimantan Selatan
Pondok Pesantren Darussalam adalah sebuah pondok pesantren yang berlokasi di kawasan Pasayangan, Martapura, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, Indonesia. Ponpes ini didirikan pada tahun 1914 oleh K.H. Jamaluddin, salah seorang ulama terkemuka pada saat itu, yang merupakan pendiri sekaligus pemimpin pertama pesantren Darussalam.
Pondok Pesantren ini merupakan pesantren tertua di Kalimantan dan telah melahirkan banyak ulama terkemuka dan menjadi tempat penting pendidikan dan regenerasi ulama di Kalimantan. Hampir seluruh silsilah murid-guru di Kalimantan Selatan bermuara di pesantren ini.
Sejarah dan perkembangan
Pondok Pesantren Darussalam berdiri 14 Juli 1914 di Martapura, Kalimantan Selatan. KH. Djamaluddin, salah seorang Ulama terkemuka pada saat itu adalah pendiri sekaligus pemimpin pertama pesantren Darussalam. Berlokasi di Jl. K.H.M. Kasyful Anwar Pasayangan Martapura, pesantren tersebut memiliki peran penting bagi sejarah perkembangan islam di Kalimantan Selatan. Pesantren Darussalam kemudian menjadi acuan bagi perkembangan pesantren-pesantren lain yang berdiri kemudian di propinsi tersebut.
Keputusan KH. Jamaluddin untuk mendirikan pesantren dilandasi dengan semangat dalam rangka pengembangan agama islam di wilayah Kalimantan Selatan. Selain itu, daerah ini memang dikenal memiliki tradisi keagamaan yang sangat kuat. Bahkan, sejumlah ulama Indonesia terkemuka berasal dari daerah ini. Oleh karena itu, KH. Djamaluddin kemudian melihat bahwa pesantren merupakan satu upaya terbaik saat itu untuk mengembangkan islam, khususnya di wilayahnya. Setelah dia meninggal dunia digantikan oleh KH. Hasan Ahmad.
Pada awal berdirinya, pesantren Darussalam menggunakan sistem pengajaran tradisional. Materi-materi yang diajarkan terbatas hanya di bidang keagamaan. Begitu pula, bangunan pesantren masih sangat sederhana, hanya untuk pengajaran keagamaan dengan cara halaqah, dimana para murid duduk bersimpuh mengelilingi guru sambil mendengarkan materi keagamaan yang diberikan.
Perkembangan pesantren Darussalam mengalami lompatan besar ketika pesantren dipimpin KH. Kasyful Anwar. Ia menggantikan KH. Hasan Ahmad. Dia menjadi pimpinan pesantren dari tahun 1922 hingga 1940. Pada periode itulah, sejumlah pembaharuan dilakukan dalam rangka meningkatkan pendidikan pesantren. Ia melakukan pemugaran gedung lama diganti gedung baru bertingkat. Gedung itu memiliki enam belas lokal, yang digunakan baik sebagai ruang belajar maupun kantor.
Selain itu, pembaharuan yang dilakukan KH. Kasyful Anwar adalah memperkenalkan sistem klasikal / madrasah pada sistem pendidikan tradisional dengan sistem kelas berjenjang. Mulai dari Tahdiriyah selama 3 tahun, Ibtidaiyah 3 tahun, dan Tsanawiyah 3 tahun. KH. Kaysful Anwar juga melakukan pembaharuan pada kurikulum. Ia tidak lagi membatasi pendidikan pesantren pada mata pelajaran agama islam, tapi juga memasukkan mata pelajaran umum dalam kurikulum yang berlaku dipesantren.
Modernisasi pesantren Darussalam terus berlangsung sejalan dengan perkembangan masyarakat sekitar. Kebutuhan masyarakat terhadap pendidikan yang makin beragam – yang tidak hanya terbatas dibidang keagamaan – senantiasa memperoleh perhatian yang sangat besar dari pengelola pesantren Darussalam pada periode berikutnya. Oleh karena itu, saat ini pesantren Darussalam tidak hanya mendirikan lembaga pendidikan islam madrasah, tapi juga lembaga pendidikan umum. Pesantren yang berlokasi di Martapura juga memiliki SMP, SPP (Sekolah Pertanian) yang menggunakan kurikulum dari departemen pertanian, dan STM yang mengacu pada Depdiknas. Bahkan, pesantren juga mendirikan Sekolah Tinggi Agama Islam yang dipadu dengan sistem pesantren.
Sebagaimana pesantren lainnya, pesantren darussalam Martapura juga mengembangkan ciri khas untuk menyedot para santri dari daerah sekitarnya. Adapun ciri khas pesantren ini :
Kurikulum pesantren mengacu pada kitab kuning, sementara sekolah menggunakan sistem klasikal.
Pesantren memiliki hubungan sangat dekat dengan masyarakat (community based institution), sehingga Darussalam sekaligus berfungsi sebagai tempat penyelenggaraan kegiatan – kegiatan sosial keagamaan masyarakat.
Penyelenggaraan pendidikan
Pesantren Darussalam yang merupakan pesantren pioneer di wilayah Kalimantan Selatan memiliki sejumlah pendidikan formal. Mulai dari Ibtidaiyah, hingga perguruan tinggi berjejer di pesantren tersebut. Adapun lokasinya khusus di jalan Perwira Komplek Pangeran Antasari Martapura, yang juga sekarang di tambah dengan pendidikan ekstra kurikuler Ula’ dan Wustho Salafiyah pada tempat dan waktu belajar tersendiri. Sedangkan untuk pendidikan diniyah, pesantren menerapkan kurikulum tersendiri.
Sebagaimana pesantren lainnya, pesantren Darussalam Martapura juga sangat memperhatikan pengembangan minat dan bakat para santri. Untuk itu Darussalam juga menyelenggarakan kegiatan ekstra kurikuler antara lain : pengajian Kitab kuning, kursus kerajinan batu aji, kursus otomotif dan las listrik / karbit, kursus menjahit.
Kegiatan Ekonomi
Sebagai pesantren tua di Kalimantan Selatan, Darussalam juga menyelenggarakan kegiatan ekonomi :
Kopontren Darussalam
Warung Serba Ada
Toko Kitab
Warpostel
Kebun Karet
Persawahan
Bengkel las
Percetakan / Foto Copy
Pimpinan
KH. Jamaluddin (1914-1919)
KH. Hasan Ahmad (1919-1922)
KH. M. Kasyful Anwar (1922-1940)
KH. Abd. Qadir Hasan (1940-1959)
KH. Sya’rani Arif (1959-1969)
KH. M. Salim Ma’ruf (1969-1976)
KH. Badruddin (1976-1992)
KH. Abdul Syukur (1992-2007)
KH. Khalilurrahman (2008-2016)
KH. Hasanuddin Badruddin (2016-sekarang)
Sumber : https://id.m.wikipedia.org/wiki/Pondok_Pesantren_Darussalam_Martapura
Kamis, 08 Maret 2018
Istri - istri akhir zaman
Istri - Istri Akhir Zaman
Oleh: Sulthonul Ilmi Al Habib Salim Bin Abdullah Assyatiry
Rubbath Tareem.
“Inilah yang terjadi pada istri-istri pada akhir zaman ini.
Ketika mereka berada dirumahnya :
•Dihadapan suaminya mereka berpakaian seadanya
•Rambut acak-acakan dan aroma badannya pun dibiarkan tak sedap
•Kalo bicara dengan suara keras dan tinggi.
Tetapi ketika keluar dari rumahnya :
•Didepan khalayak ramai bahkan didepan laki-laki lain mereka memakai pakaian-pakaian yang bagus
•Berdandan cantik dan memakai parfum
•Kalo bicara dengan suara yang dilemah lembutkan.
•Mereka bebas keluar dari rumahnya tanpa ada
keberanian dari sang suami untuk menegur tetapi kebalikanya ketika suami terlambat pulang sedikit saja langsung dibentak dan dinterogasi.
Wahai saudariku…
Inilah kenyataan yang terjadi pada rumah tangga kaum muslimin,dimana yang memegang kendali dalam rumah tangga adalah ISTRI,bahkan terkadang suaminya adalah seorang yang abid (Ahli 'Ibadah), tapi dia telah membiarkan istrinya durhaka terhadapnya dengan tidak memberikan pendidikan terhadap istrinya.
Dalam hadits Rasullullah Shollallahu ‘Alaihi Wa sallam bersabda :
“Sebaik-baik istri yaitu yang menyenangkanmu ketika kamu lihat, taat kepadamu ketika kamu suruh, menjaga dirinya dan hartamu ketika kamu pergi.“
(HR.Thabarani)
Siapakah wanita yang paling baik…?
Jawab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :
“Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci.”
(HR. An-Nasai dan Ahmad)
Abdullah bin Abbas radhiallahuanhu,berkata :
“Sesungguhnya aku selalu berhias untuk istriku seperti berhiasnya dirinya untukku.”
اللهم صل على سيدنا محمد وعلى آل سيدنا محمد
Allahumma Sholli ‘Ala Sayyidina Muhammadin Wa ‘Ala Ali Sayyidina Muhammad.
_*KEUTAMAAN_WANITA*_
1. Doa seorang isteri yg taat memiliki kekuatan 70 wali
2. Isteri yg membuatkan minum suami tanpa diminta, pahalanya 3x khatam Qur'an.
3. Masakan isteri yg dilakukan secara sunah dan dimakan suami beserta keluarga pahalanya semua untuk isteri dan do'a suami yg memakan masakannya menjadi do'a yg diijabah.
4. Isteri yg membangunkan suami untuk sholat atau mengingatkan sholat berjamaah di masjid pahalanya 27+1
5. Isteri yg kelelahan bangun malam karena anaknya minta susu sama dengan pahala 70x haji mabrur
6. Seorang ibu yg menyusui setiap tetes susunya senilai 200x sholat khusyu dan doanya di ijabah' (fadilah wanita)
7. Burung di udara dan malaikat dilangit akan selalu memintakan ampunan kepada Allah selama Isteri dalam keridhoan suami.
8. Bila seorang suami pulang dengan gelisah dan isteri menghiburnya maka isteri mendapatkan 10 pahala jihad.
9. Bila seorang wanita hamil sholatnya dua rekaat adalah lebih baik dari 80 rakaat sholat wanita yg tidak hamil.
10. Bila seorang wanita hamil akan mendapatkan pahala 70 tahun sholat dan 70 tahun puasa.
11. Wanita yg mencuci pakaian suami dan anak-anaknya akan mendapat 1000 kebaikan dan akan diampuni kesalahannya, bahkan segala sesuatu yang disinari matahari memintakan ampun baginya dan Allah SWT mengangkat derajatnya 1000 tingkat.
12. Wanita yg menyusui anaknya, maka setiap tetesan air susu tersebut akan mendapatkan 1 pahala dan apabila cukup 2 tahun menyusui maka malaikat dilangit akan mengabarkan berita bahwa SURGA wajib bagi nya".
13. Apabila sorang wanita kedatangan haid maka haidnya akan menghapus dosa2nya.
14. Apabila ia membaca pada hari pertama keluar haid :
الحمدلِلّٰهِ على كل حال وأستغفر ﷲ من كل ذنب
"Alhamdulilahi ala kullu halin wa astagfirullaha min kulli zanbi" Maka Allah Swt akan membebaskannya dr jahanam, shirat & adzab.
15. Setiap hari dari haidnya, Allah tinggikan dia dgn pahala 40 orang mati syahid apabila ia berdzikir.
SUBHANALLAAH... betapa sayangnya Allah SWT terhadap kaum wanita.
Dan semoga kita mendapat pasangan hidup yang soleh dan solehah Aamin Yaa Robbal Aalamin
Semoga bermanfaat....
Rabu, 07 Maret 2018
Sayyidatina Khadijah ( Isteri Rasulullah SAW )
*SITI KHADIJAH*
(Istri Rasulullah)
- Siti Khadijah Memang Wanita Istimewa.
DUA PERTIGA (2/3) wilayah Makkah adalah milik Siti Khadijah, istri pertama Rasulullah SAW.
Ia wanita bangsawan yang menyandang kemuliaan dan kelimpahan harta kekayaan.
- Namun ketika wafat, tak selembar kafanpun dia miliki. Bahkan baju yang dikenakannya di saat menjelang ajal adalah pakaian kumuh dengan 83 tambalan.
“Fatimah putriku, aku yakin ajalku segera tiba,” bisik Siti Khadijah kepada Fatimah sesaat menjelang ajal. “Yang kutakutkan adalah siksa kubur.
- Tolong mintakan kepada ayahmu, agar beliau memberikan sorbannya yang biasa digunakan menerima wahyu untuk dijadikan kain kafanku.
Aku malu dan takut memintanya sendiri”.
- Mendengar itu Rasulullah berkata, “Wahai istriku Khadijah, Allah menitipkan salam kepadamu, dan telah dipersiapkan tempatmu di surga”.
- Siti Khadijah, Ummul Mu’minin (ibu kaum mukmin), pun kemudian menghembuskan nafas terakhirnya di pangkuan Rasulullah.
- Didekapnya sang istri itu dengan perasaan pilu yang teramat sangat. Tumpahlah air mata mulia Rasulullah dan semua orang yang ada di situ.
- Dalam suasana seperti itu, Malaikat Jibril turun dari langit dengan mengucap salam dan membawa lima kain kafan.
Rasulullah menjawab salam Jibril, kemudian bertanya, “Untuk siapa sajakah kain kafan itu, ya Jibril?”
“Kafan ini untuk Siti Khadijah, untuk engkau ya Rasulullah, untuk Fatimah, Ali dan Hasan,” jawab Jibril yang tiba-tiba berhenti berkata, kemudian menangis.
- Rasulullah bertanya, “Kenapa, ya Jibril?”
“Cucumu yang satu, Husain, tidak memiliki kafan.
Dia akan dibantai, tergeletak tanpa kafan dan tak dimandikan,” jawab Jibril.
- Rasulullah berkata di dekat jasad Siti Khadijah, “Wahai Khadijah istriku sayang, demi Allah, aku tak kan pernah mendapatkan istri sepertimu.
- Pengabdianmu kepada Islam dan dirimu sungguh luar biasa.
Allah Maha mengetahui semua amalanmu.
Semua hartamu kau hibahkan untuk Islam.
Kaum muslimin pun ikut menikmatinya. Semua pakaian kaum muslimin dan pakaianku ini juga darimu.
Namun begitu, mengapa permohonan terakhirmu kepadaku hanyalah selembar sorban!?”
- Tersedu Rasulullah mengenang istrinya semasa hidup.
- Siti Khadijah
Dikisahkan, suatu hari, ketika Rasulullah pulang dari berdakwah, beliau masuk ke dalam rumah. Khadijah menyambut, dan hendak berdiri di depan pintu, kemudian Rasulullah bersabda, “Wahai Khadijah, tetaplah kamu di tempatmu”.
- Ketika itu Khadijah sedang menyusui Fatimah yang masih bayi.
Saat itu seluruh kekayaan mereka telah habis. Seringkali makanan pun tak punya, sehingga ketika Fatimah menyusu, bukan air susu yang keluar akan tetapi darah.
Darahlah yang masuk dalam mulut Fatimah r.a.
- Kemudian Rasulullah mengambil Fatimah dari gendongan istrinya, dan diletakkan di tempat tidur.
Rasulullah yang lelah sepulang berdakwah dan menghadapi segala caci-maki serta fitnah manusia itu lalu berbaring di pangkuan Khadijah hingga tertidur.
- Ketika itulah Khadijah membelai kepala Rasulullah dengan penuh kelembutan dan rasa sayang.
Tak terasa air mata Khadijah menetes di pipi Rasulullah hingga membuat beliau terjaga.
“Wahai Khadijah, mengapa engkau menangis? Adakah engkau menyesal bersuamikan aku?” tanya Rasulullah dengan lembut.
“Dahulu engkau wanita bangsawan, engkau mulia, engkau hartawan. Namun hari ini engkau telah dihina orang.
Semua orang telah menjauhi dirimu. Seluruh kekayaanmu habis.
Adakah engkau menyesal, wahai Khadijah, bersuamikan aku, Muhammad?" lanjut Rasulullah tak kuasa melihat istrinya menangis.
“Wahai suamiku, wahai Nabi Allah. Bukan itu yang kutangiskan," jawab Khadijah.
"Dahulu aku memiliki kemuliaan. Kemuliaan itu telah aku serahkan untuk Allah dan RasulNya. Dahulu aku adalah bangsawan. Kebangsawanan itu juga aku serahkan untuk Allah dan RasulNya. Dahulu aku memiliki harta kekayaan.
Seluruh kekayaan itupun telah aku serahkan untuk Allah dan RasulNya”.
"Wahai Rasulullah, sekarang aku tak punya apa-apa lagi. Tetapi engkau masih terus memperjuangkan agama ini.
Wahai Rasulullah, sekiranya nanti aku mati sedangkan perjuanganmu belum selesai, sekiranya engkau hendak menyeberangi sebuah lautan, sekiranya engkau hendak menyeberangi sungai namun engkau tidak memperoleh rakit atau pun jembatan, maka galilah lubang kuburku, ambillah tulang-belulangku, jadikanlah sebagai jembatan bagimu untuk menyeberangi sungai itu supaya engkau bisa berjumpa dengan manusia dan melanjutkan dakwahmu”.
"Ingatkan mereka tentang kebesaran Allah.
Ingatkan mereka kepada yang hak. Ajak mereka kepada Islam, wahai Rasulullah”.
- Di samping jasad Siti Khadijah, Rasulullah kemudian berdoa kepada Allah. “Ya Allah, ya Ilahi Rabbiy, limpahkanlah rahmat-Mu kepada Khadijahku, yang selalu membantuku dalam menegakkan Islam. Mempercayaiku pada saat orang lain menentangku. Menyenangkanku pada saat orang lain menyusahkanku. Menenteramkanku pada saat orang lain membuatku gelisah”.
- Rasulullah pun tampak sedih. “Oh Khadijahku sayang, kau meninggalkanku sendirian dalam perjuanganku.
Siapa lagi yang akan membantuku?”
“Aku, ya Rasulullah!” sahut Ali bin Abi Thalib.
jawab ,menantu Rasullulah.....